Minggu, 21 Juli 2013

[Review] KambingJantan



Judul: Kambing Jantan; sebuah catatan harian pelajar bodoh
Penulis: Raditya Dika
Editor: Denny Indra
Penerbit: GagasMedia, (Cetakan Pertama, 2005| Cetakan kedua puluh tujuh, 2009)
Tebal: 237 Hal
Jenis buku: Nonfiksi / komedi
ISBN: (13)978-979-3600-69-7 / (10) 979-3600-69-1


Sinopsis di belakang buku:


Esok paginya, ternyata jerawat gw makin banyak!!! Tidakkkk... rupanya ada yang infeksi gitu soalnya si tukang salon salah ngasih obat... Nyokap gw langsung panik... mulai saat itu, dia bersiin muka gw pake lotion ama toner pembersih setiap malam... Ajaibnya, setiap kali di bersiin ama dia, paginya pasti jerawat gw berkurang banyak sekali!!! 

Selidik punya selidik, gw bertanya pada sang mama....

Gw  : Ma, kok jerawatnya ilang banyak banget sih? Lotionnya bagus yah?

Nyokap: Wahhh... rahasianya bukan di krim ato tonernya, Kung....

Gw  : Trus?

Nyokap: Rahasianya tuh pada kain yang Mama pake buat bersiin muka kamu!

Pas gw ngeliatin tuh kain... ternyata bentuknya segitiga..., ternyata ada karetnya di bagian atas.., ternyata.. itu adalah kolor bokap gw!!! TIIIDAAAAAKKK.....! Jadi, selama ini nyokap gw menjamah dan mengusap muka gw pake kolornya bokap.... huhuhuu.. nasib... tapi manjur lho!


Pesan moral: ternyata selain buat topi, kolor punya kegunaan lain yang menakjubkan!
Sebelumnya, dia  adalah seorang blogger yang tinggal di www.radityadika.com, atas pertanyaan yang diajukan oleh salah satu pembaca blognya, ia tertarik membukukan cerita hariannya. Dan Akhirnya, terbitlah buku yang berjudul KambingJantan.

Jika saya seorang kritikus buku, mungkin saya juga mengkritik habis-habisan buku ini. Kenapa? Di satu sisi buku ini bisa membuat kita tersenyum atau bahkan tertawa, buku ini juga ada kekurangannya. Tak ada gading yang tak retak, kalau menurut peribahasa. 

Saya juga sempat bertanya-tanya, sebenarnya, editor buku itu tugasnya seperti apa? Setahu saya, tugasnya adalah membenarkan kata yang tertulis tak tepat, berloncatan, atau kesalahan tanda baca yang digunakan. Namun, sepertinya itu tak tampak dalam buku ini. Banyak sekali kesalahan dalam buku ini. Seperti tanda baca, kata yang ditulis juga tak sesuai dengan EYD yang disempurnakan.

Atau mungkin, buku ini langsung di salin dari blog menjadi sebuah buku? entahlah. Seperti, penggunaan kata 'gw', meskipun itu adalah dialek, sebaiknya saya pikir diganti dengan 'gue' saja. Itu hanya contoh. Masih banyak lagi. Itu membuktikan bahwa seorang seperti Raditya Dika pun pernah mengalami masa-masa yang dikenal sebagai masa ALAY. heuheu...

Tapi, yang saya suka dari buku ini adalah cara penyampainnya yang sangat kocal dan absurd. Untuk sekedar informasi, buku ini menceritakan kehidupan sang penulis, Raditya Dika, yang menurut saya sangat konyol. Tapi itu yang menyebabkan saya tertawa pada saat membaca buku ini.

Yang membuat saya terkesan, keabsurdan dia saat berimajinasi. Seperti membuat gaya yang menyamai ketika berciuman, sampai mendirikan sebuah partai polotik yang dia sendiri sebagai ketua umum, calon presiden, dan anggota. Sungguh gila.

Tak hanya bercerita saat di Indonesia, tapi juga saat dia belajar di salah satu university di Adelaide, Australia. Setelah membaca, rasanya saya ingin seperti dia, bisa belajar di luar negeri. Untuk kekonyolan hidup, saya tak mau.

Meskipun saya, kurang lebih, sudah 2 kali membaca buku ini, saya tetap tertawa. Entah kenapa.  Seperti buku ini membwa kekuatan magis. Tapi, setidaknya dapat membuat kita lupa waktu saat membacannya.

~ bahwa mustahil adalah sebuah kata yang tidak masuk akal. :)