Senin, 07 Oktober 2013

Review dan Quote Buku Surat Dahlan







Judul   : Surat Dahlan, 2013
Penulis: Khrisna Pabichara
Editor: Suhindrati Shinta dan Rina Wulandari
Penerbit: NouraBooks
Tebal: 378 Halaman
ISBN: 978-602-7816-25-1

I.Sinopsis
Surat dahlan adalah sekuel dari buku Sepatu Dahlan. Berbeda dengan Sepatu Dahlan yang menceritakan seorang dahlan pada waktu ia masih kecil hingga lulus SMA. Dalam Surat Dahlan menceritakan seorang Dahlan remaja hingga dewasa.

Dahlan remaja memilih untuk merantau ke Samarinda untuk mencari ilmu. Dia menjadi mahasiswa di kampus Perguruan Tinggi Agama Islam(PTAI). Sebuah kampus yang berada tepat diatas rawa-rawa dan masih terbuat dari papan-papan kayu.

Selama di Samarinda ia tinggal rumah kakaknya, Mbak Atun namanya. Dahlan Remaja adalah seorang yang mempunyai ketegasan dalam melakukan sesuatu. Oleh karena itu Ia lebih memutuskan untuk berhenti kuliah dan memilih aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Dahlan bersama anggota Pelajar Islam Indonesia(PII) melakukan demo besar-besaran di Tugu Muda dan mengibarkan bendera hitam. Aksi itu dilakukan karena kondisi politik yang semakin memanas. Karena dianggap memberontak, mereka pun sempat menjadi buronan tentara, dan Dahlanlah yang menjadi incaran nomor satu. Dan dalam pelarian itu ia menemukan jodohnya, perempuan dari Loa Kulu.




II.Quote
“Kunamai kepalaku dengan kebun harapan. Kebun yang segala jenis bibit bisa tumbuh di sana.”

“Siapa yang menetapkan bahwa ketegasan itu mutlak milik lelaki?”

“Tuhan menciptakan air mata bukan untuk perempuan saja.”

“Kita memang dilahirkan dengan rasa takut, tapi kita tidak boleh gentar mengahapi apapun.”

“Setiap kita punya takdir yang harus dijalani.”

“Kadang kita luput mensyukuri anugrah yang kita terima. Mungkin karena rahmat itu kita anggap kecil atau memang sesuatu yang lumrah, lantas kita lali menjaganya.”

“Memang, tidak ada yang menyamai cinta dalam penciptaan kesedihan.”

“Pada hakikatnya, yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian.”