Senin, 13 Januari 2014

About Robert Galbraith, JK Rowling and The Cuckoo's Calling




Judul: The Cuckoo’s Calling: Dekut Burung Kukuk
Penulis: Robert Galbraith alias J. K. Rowling
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2013
Tebal: 520 halaman
ISBN: 978-602-03-0062-7


Mungkin sebagian orang yang merasa asing ketika mendegar nama Robert Galbraith. Ya, begitu pula dengan saya pada awalnya. Namun sebaliknya, ketika orang mendengar nama JK Rowling, orang akan langsung tertuju pada mahakaryanya, yaitu serial novel Harry Potter. Betapa tidak, dengan novel Harry Potter, JK Rowling telah menjadi milyarder pertama dengan pekerjaannya sebagi penulis buku.

Tapi, apa hubungannya Robert Galbraith dengan Sang Maestro? Telisik punya telisik, ternyata Robert Galbraith adalah nama samaran yang digunakan Sang Maestro untuk menulis novel kriminal yang berjudul The Cuckoo’s Calling. Kenapa memakai nama samaran padahal penulis sesungguhnya sudah diketahui?
Diketahui pembocor identitas asli JK Rowling bernama Chistopher Gossage. Dia membocorkan identitas JK Rowling sebagai penulis The Cuckoo’s Calling lewat Twitter. Dengan perlakuannya, dia didenda sebesar 1000 poundsterling atau kurang lebih 20jt jika dirupiahkan.

Sekarang, saya akan me-review novel The Cuckoo’s Calling karya Robert Galbraith alias JK Rowling. Selamat membaca.


                                                                        0o0

Dalam buku ini Sang Maestro menceritakan tentang perjalanan seorang detektif partikelir yang sedang menangani kasus kematian seorang supermodel. Pihak polisi sudah menyatakan bahwa itu adalah murni kasus bunuh diri, bukan pembunuhan. Akan tetapi sang kakak angkat, John Bristow , masih tidak percaya, dan akhirnya menyewa detektif yang bernama Cormoran Strike, yang menjadi tokoh utama dalam novel ini.

Dalam setiap bab, kita diajak untuk ikut mengenal para saksi-saksi yang bersangkutan dengan kematian supermodel yang bernama Lula Landry. Mulai dari kakak angkatnya, tetangga tempat tinggalnya, satpam gedung, hingga sopir pribadinya. Dan dari setiap saksi yang diperiksanya, mereka mempunyai kesaksian yang berbeda-beda. 

Pada saat membaca novel ini saya serasa terbawa kedalam hiruk pikuk kota London, yang menjadi setting tempat novel ini. Dikarenakan penggambaran Sang Maestro yang sangat mengesankan. Mulai dari Mayfair yang mewah dan sunyi, bar-bar yang didalamnya ada makhluk-makhluk menawan, hingga keriuhan Soho.

Sang Maestro, JK Rowling, berhasil membuat efek untuk ‘Terus membaca sampai halaman terakhir’. Pasalnya, bab demi bab yang saya baca, selalu mengadirkan dugaan tersangka yang lebih kuat, hingga tersangka sebenarnya. Dan saya yakin, setiap tebakan pembaca untuk tersangka sekitar 80% salah. Dan itu yang membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca novel kriminal yang sangat menawan ini.

Namun yang saya sayangkan adalah porsi narasi dan dialog yang tidak seimbang. Pada waktu narasi, sampai berparagraf-paragraf, membuat pembaca bosan. Dan jika sudah memasuki dialog, dialog terus, terkesan encer sekali. 

Dan saya dengar, tahun ini JK Rowling akan menerbitkan sekuel dari novel ini, dan mungkin juga akan dibuat serial seperti Harry Potter. Dan ada juga yang mengatakan bahwa novel ini akan segera difilmkan. Pencapaikan yang sangat mengagumkan dalam waktu yang sangat dekat. Mungkinkah kesuksesan The Cuckoo’s Calling menyamai Harry Potter? Atau mungkin melebihi? Mari kita tunggu aksi selanjutnya sang Maestro, JK Rowling.