Kamis, 02 Januari 2014

Review Penjaja Cerita Cinta






Judul Buku          : Penjaja Cerita Cinta
Penulis                 : @edi_akhiles
Penerbit               : Diva Press
Tahun terbit        : 2013
Jml hal                  : 192


Sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih kepada pak @Edi_Akhiles yang sudah memberi kesempatan kepada saya untuk menulisakan review bukunya: Penjaja Cerita Cinta. Buku tersebut saya dapatkan secara gratis, ya gratis. Syaratnya hanya mewajibkan kita untuk menuliskan review singkat seletah menerimanya. 

Dalam review berikut ini saya hanya mengomentari apa yang dapat diberi komentar. Jika ada salahnya, ya maaf, saya kan bukan editor naskah, ataupun sejenisnya. Maka dari itu saya mohon maaf sekali lagi, jikalau komentar saya terlihat ngasal atau tidak bermutu. Soalnya saya hanya mengandalkan kemampuan otak saya yang pas-pasan ini. Selamat menyimak!
                                                                        ***
Dalam buku ini terdapat 15 cerpen. Ada beberapa juga yang diambil dari blog pak @Edi_Akhiles. Ada banyak teknik penulisan sebuah cerita dalam buku ini. Ada yang sastra berat, setengah berat, sampai ada jenis cerita yang penulisanya khas anak muda jaman sekarang, encer banget. Hal itu bagus menurut saya. Beliau menunjukkan bahwa menulis itu tidak harus terlalu terpaku hanya pada satu teknik. Teknik menulis itu beragam. 

Ohya, dalam review berikut saya tidak akan menceritakan alur atau jalannya cerita, takutnya jadi spoiler. Oke, tidak usah banyak cocot-bacot, cekidot!

                                                                        ***
||Penjaja cerita cinta||Tokoh utama dalam cerita ini bernama Senja. Jujur saja, pada awalanya saya kurang ngeh waktu pertama kali membaca cerpen ini. Lalu saya ulangi, dan saya baru paham jalan ceritanya. Singkat kata, sang tokoh utama, Senja, sedang dilanda parasaan rindu terhadap kekasihnya yang telah berjanji akan kembali kepadanya diwaktu senja. Lama, lama sekali Senja menunggu, tapi kekasihnya tak kunjung kembali. Tapi, Senja selalu setia menunggunya disetiap senja.

Ada hal yang membuat saya sedikit bingung pada saat membaca cerpen tersebut. Yaitu, terlalu banyak kata senja dalam cerpen tersebut. Ada Senja untuk nama tokoh utama, dan satunya lagi untuk setting waktu. Seringkali saya harus mengulang kalimat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dan satu lagi, saya, jujur, sedikit terganggu dengan adanya adegan *tiiiitt*. Menurut saya alangkah baiknya jika adegan tersebut tidak dimasukkan. Takutnya mengganggu jalannya cerita. Disitu juga, umur si Nyonya Sri tidak dijelaskan secara detail. Hanya dijelaskan dengan kata, ‘tak lagi belia’. Mohon dijelaskan, mungkin dengan umur? Supaya dapat membantu pembaca untuk melihatnya di imajinasi pembaca.

Dan menurut saya ending dari cerpen ini sedikit tidak logis.

||Love is Ketek!||Sama halnya dengan cerpen Penjaja Cerita Cinta, disini saya juga bingung dengan tokohnya. Dalam cerpen ini saya bingung dengan nama pacarnya. Di hal-47 disitu diterangkan bahwa nama pacarnya itu Parmini, sedangkan di hal-49 dan 51 berganti menjadi Ve. Jadi, nama yang sebenarnya itu siapa? Mungkinkah nama lengkap Parmini ada kata Ve? Dan kalau parmini itu nama panggilanya, mohon dijelaskan, kenapa dia kok bisa dipanggil Parmini?

||Cinta tak berkata-kata||Cerpen ini menunjukkan pada kita, bahwa disaat kita mencintai seserorang, jangan berkata saja, tapi buatlah apa yang kamu katakan itu menjadi kenyataan. Saat membaca cerpen ini saya seperti membac cerita hidup saya sendiri. Tidak tahu kenapa, tapi saya suka cerpen ini!

||Dijual murah surga seisinya|| Tamparan Tuhan|| Aku bukan batu, dan Cerita sebuah kemaluan||Menurut saya keempat cerpen ini memiliki tujuan yang sama, yaitu menginginkan kita agar selalu ingat pada Tuhan, dan tidak bermain-main dengan-Nya.

Dijual Murah Surga Seisinya salah satu cerpen favorit saya di buku ini. Saya tidak tahu ini kisah nyata atau hanya sebuah cerita fiksi belaka, namun saya sangat menyukai tema dan pesan dari cerita ini. Setelah membaca cerpen ini, saya seakan-akan terbangun dari tidur saya. 

Dalam cerpen ini menerangkan kalau ingin masuk surga itu mudah, dan dapat dibeli dengan harga yang cukup murah. Yaitu dengan hanya membelanjakan uang sebesar seribu rupiah dijalan-Nya setiap minggunya kita akan dapat surga beserta isinya. Luar biasa bukan? Bandingkan dengan uang yang kita gunakan untuk membeli barang-barang yang tidak berguna? Cerpen ini dikemas secara ringan, dan sangat mudah dipahami, dan akibatnya juga luar biasa untuk diri kita sendiri! seperti mendapatkan petunjuk untuk hidup.

Tamparan Tuhan, menjelaskan agar kita tidak boleh memanfaatkan status kita sebagai orang yang di dzalimi untuk mendzalimi orang lain. Terima kasih telah mengingatkan saya.

Aku bukan batu. Saya sedikit terganggu pada kata ‘Nggak’ di cerpen ini. Mislanya pada dialog, “Ah, aku nggak percaya omonganya!” Alangkah baiknya kata ‘nggak’ diganti dengan tidak. kenapa? karena menurut saya cerpen ini termasuk golongan cerpen yang nyastra(?). jadi itu mengurangi ke-nyastraan cerpen tersebut.
Dari keempat cerpen tersebut saya mengetahui bahwa Pak Edi bukan hanya seorang penulis semata, tetapi juga guru, atau lebih tepatnya uztad. Karena banyak memberikan pencerahan di setiap cerpen yang dituliskannya.

|| Menggambar tubuh Mama||
Seperti beberapa cerpen pak Edi yang lainnya berpesan kepada kita untuk bersyukur kalau ibu kita masih ada disisi kita, menemani, dan merawat kita. Saya sedikit terganggu dengan pengulangan kata yang digunakan untuk menjelaskan si Pembunuh mama. Tapi, dari alur ceritanya bagus. Ditambah lagi ada adegan yang menceritakan ketika sang anak melihat kepala ibunya yang menggelinding. Tragis menurut saya. Yang saya pikirkan adalah reaksi si anak yang menurut saya tidak logis. Seharusnya si anak ini mencari bantuan. Tapi dia lebih memilih tidur di amping mamanya. Bukankah itu mngerikan untuk ukuran anak kecil? Maaf, jika saya salah.

|| Secangkir Kopi Untuk Tuhan (In Memoriam 58 Super Sic)||
Mungkin cerpen ini kisah nyata pak Edi, dan mungkin sekali pak Edi penggemar berat MotoGP. Singkat kata, setting waktu cerpen ini terjadi pada waktu meninggalnya Marco Simoncelli di sirkuit sepang, Malaysia lalu. Saya sangat suka penggambaran pak Edi di cerpen ini. Menjelaskan bahwa kematian bisa datang kapan saja, termasuk waktu kita melakukan hal yang kita cintai.




“Kematian Simoncelli memebanrkan ungkapan bahwa semua orang akan mati di anatar sesuatu yang dicintainya,” suara kakakku merobek sehelai rambutku.—hal-85



||Tak Tunggu Balimu|| Cinta Cantik|| dan si X, si X God| Saya sengaja mengabungkan ketiga cerpen ini dalam satu ringkasan. Karena menurut saya karakteristik ketiga cerpen itu sama. Yakni, menyelipkan ilmu-ilmu umum di dalamnya. Apa lagi dengan cerpen tak tunggu balimu, mencampurkan ilmu umum dengan dangdut koplo. Unik sekali. Namun, menurut saya itu terkesan membosankan dan monoton. Penjelasannya terlalu panjang, hanya dengan sekali tarikan napas.
Si X, si X and God membuktikan perkataan saya tadi, kalau Pak Edi ingin menunjukkan cara menulis cerita itu beragam. Cerpen ini ditulis dengan format 99% dialog. Sedikit membuat saya bingung memang. Pada walnya saya sempat bertanya, “Sebenernya, ini cerita tentang apa, ya?” 


“Jika engkau ingin melihat indahnya fajar, maka engkau harus melihat kelamnya malam...”—Kahlil Gibran, hal-112.

||Abah I Love You...|| dan Lengking Hati Seorang Ibu yang ditinggal Anaknya||
Dua cerpen ini mengingatkan kepada kita akan kecintaan kedua orang tua kepada kita. Memberitahu seberapa besar rasa sayang seorang ayah, dan membuatnya menjadi orang yang terlalu posesif. Dan kerinduan seorang ibu ketika menunggu anaknya pulang. Ibu rela tak berselimut, sedangkan anaknya merasakan kehangatan karena ada dua selimut membalut tubuhnya. 

||Munyuk||
Saya menyesalkan Pak Edi yang menuliskanya kurang panjang. Menurut saya, cerpen tersebut belum selesai. Kurang lengkap. Hasilnya saya masih bertanya-tanya.


Itulah review singkat dari saya. Kalau ada kurangnya, ya, maaf. Saya kan bukan Tuhan.