Selasa, 29 Juli 2014

[Review] Merentang Sajak Madura-Jerman: Sebuah Catatan Perjalanan ke Berlin

Judul Buku: Merentang Sajak Madura-Jerman: Sebuah Catatan Perjalanan ke Berlin
Penulis: M. Faizi
Penerbit: Komodo Books
Tebal: 142 Halaman
Cetakan: I, Juni 2012 


Sebuah perjalanan bagi sebagian orang hanyalah hal biasa yang awam terjadi. Tak ada hal istimewa di dalamnya. Kalaupun ada, pastilah hanya di masukkan ke dalam otak yang rentan lupa.
Namun M. Faizi berbeda. Ia memlnceritakan pengalamannya mengikuti rangkaian kegiatan sasta yang telah ia ikuti menjadi sebuah buku yang menarik untuk dibaca. Salah satunya sewaktu mengikuti Jakarta Berlin Arts Festival, di Berlin, 24 juni-3 juli 2011. Siapa menyangka itu akan menjadi sebuah buku catatan perjalanan?


Di acara tersebut, ia bersama kawan sesama Sastrawan Indonesia; Sosiawan Leak, Joni Ariadinata, dan Jamal D. Rahman---ikut berpartisipasi untuk membacakan berbagai macam karya sastra seperti Puisi dan Prosa.


Meskipun berjudul 'Merentang Sajak Madura-Jerman' buku ini ditulis dengan kata-kata yang mudah dipahami. Mengenai sajak. Dalam buku ini hanya ada sebuah sajak atau puisi. Itupun berada di akhir-akhir bagian buku ini.


Berikut potongan sajak tersebut:


Ottoman,
Apakah kamu tahu bahwa saat ini upa.

seorang lelaki dari desa nun jauh
sedang mengambil air dari tanahmu untuk membasuh mukanya
berwudlu, sambil menyesap sedikit air darinya,
berharap Emre atau Hakan
mengajaknya mampir untuk minum kahve
di beranda rumahnya
Lelaki itu, saat ini,
Hendak membayar rasa bersalah
Di atas sajadah, tikar lembut hasil karya negerimu
dengan kening basah
....


Begitulah potongan sajak yang berada di halaman 124-125. Setelah membaca sajak tersebut, terlihat bahwa itu adalah ungkapan rasa bersalah Seorang M. Faizi.
Apa yang telah dilakukan M. Faizi sehingga ia merasa bersalah?


Dan jawabannya adalah ketika ia tidak bisa menunaikan shalat Jum'at di sana. Hal ini di jelaskan pada halaman 90. Oh, begitu jauh.


Bagaimanapun, buku ini bisa menjadi teman membunuh waktu. Kita akan diajaknya memgelilingi kota Berlin dan mencicipi makanan dari berbagai negara. Dari sekian makanan yang ada, yang paling dirindunya adalah Nasi. Karena menurut sebagaian orang, kalau nasi belum masuk perut, itu berarti belum makan.


Dalam buku ini ada sebuah peristiwa, yang menurut saya, terkesan lucu. Yaitu pada saat ia nyekar ke makam salah satu musisi besar Jerman Sebastian Bach, yang notabenenya tak pernah shalat ataupun tahlilan.