Senin, 28 Juli 2014

[Review] Versus by Robin Wijaya

Judul buku: Versus
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: vii+400hlm
Cetakan: I, 2013
ISBN: 979-780-670-7


Kisah berawal saat dua kawan selesai menyaksikan pemakamam sahabat mereka. Kawannya, yang telah mati, meninggalkan banyak pertanyaan, yang masih belum terjawab, untuk mereka. Selama hidup, ia dikenal yang paling berani. Tapi, kenapa ia bisa mati terlebih dulu?
Waktu berputar. Novel ini menggunakan alur mundur, flashback, untuk menjawab apa yang sebenarnya terjadi pada 3sahabat itu. Di kafe, mereka mengingat temannya yang telah tiada, sembari menebak siapa yang akan mati berikutnya.


Novel ini memiliki 3 suara untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Suara-suara itu berasal dari 3 sahabat yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Mereka dibagi dalam 3 framen yang berbeda, dengan 'suara' yang berbeda pula.


Ketiga suara itu masing-masing berasal dari Amri, Bima, dan Chandra. Untuk sebagian penulis, bukan hal yang mudah untuk menyajikan sudut pandang tokoh lebih dari 1. Seringkali ia, sang penulis, tidak dapat memberi ciri khas yang membedakan suara dari tiap tokoh rekaannya. Serasa mereka memiliki satu suara, yang membedakan hanyalah nama saja.


Robin Wijaya, penulis Versus, menyadari akan resiko itu. Ia berusaha menghindarinya dengan penggunaan kata ganti sudut pandang pertama. 'Aku' untuk suara Amri, 'Gue' untuk suara Chandra, dan 'Saya' untuk Bima.


Tak hanya itu, pemilihan kata tiap suara pun berbeda. Hal itu sedikit membantu membedakan antara ketiga suara tersebut. Dan juga cara pandang sesuatu. Anda tahu, cara pandang seorang tukang semir sepatu dengan pedagang asongan pun beda. Itu bisa dipengaruhi oleh latar belakang tiap karakter.


Sebagai informasi saja, Versus mempunyai semacam tagline yang berbunyi 'Selalu ada harapan di antara perbedaan'. Awalnya, saya menebak perbedaan yang dimaksud adalah tentang asal usul ataupun agama. Ditambah lagi, setting dalam novel ini diambil pada tahun 1997-1998. Yang, seperti anda tahu, banyak sekali kekacauan yang terjadi. Seperti pengucilan atau bahkan penganiayaan kaum pribumi kepada etnis Tionghoa dan lain-lain. Chanda adalah keturunan Tionghoa.
Anggapan saya salah. Robin menunjukkan banyak masalah di negeri ini, selain itu, yang bermula dari perbedaan.

Konflik dalam novel ini sebenarnya sederhana. Perseteruan antar kampung, masalah keluarga dan kepribadian seseorang yang berbeda dari orang kebanyakan. Tapi, ada beberapa orang yang tak bisa menerima perbedaan itu. Hal itu yang membuat konflik bermula.


Saya merasa, Robin juga telah menyajikan konflik yang tak berkesudahan. Paradoks. Seperti lingkaran setan. Mereka akan terus seperti itu. Satu terbunuh, kawan balas dendam. Begitu seterusnya. Sisi paradoks di buku ini bisa dilihat dari perselisihan antara kampung Bayah dan kampung Anyar yang tak berujung.


Apa yang akan Amri dan Chandra lakukan setelah Bima mati?
Untuk nilai buku ini saya memberi 6/10. Dari review saya semoga anda dapat mempertimbangkan untuk membeli buku ini. Salam.