Selasa, 28 Oktober 2014

[Review] 9 Summers 10 Autumns

Judul: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: V, juni 2011
ISBN: 978-979-22-67662
Saya rasa, novel yang menjelaskan mengenai hidup seseorang itu sudah biasa. Seperti otobiografi orang-orang yang telah sukses ataupun pahlawan. Kita akan merasa tertarik untuk membacanya. Karena secara manusiawi kita akan ingin menjadi orang yang lebih baik, sukses dan bahagia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membaca kisah hidup mereka. Bagaimana awal mula seseorang, apa saja yang harus dilakukan, dan lain-lain.
Namun itu berbeda dengan buku ini. Dan saya kira teman-teman banyak yang tidak tahu dengan nama Iwan Setyawan, sebelum membaca buku ini tentunya. Itulah mengapa Iwan ingin menulis buku ini, untuk memperkenalkan siapa dirinya sebenarnya. Dan bagaimana ia dapat mencapai dirinya yang sekarang.


Ia mencoba berbagi inspirasi dan semangat. Mengajak kita untuk lebih menghidupkan hidup ini. Menjalaninnya dengan penuh gairah untuk medapatkan hasil yang maksimal. Tak peduli dari mana kita berasal, tapi kemana kita menuju.
Iwan, dalam bukunya, adalah salah seorang anak dari 4 bersaudara. Meskipun ia terlahir dalam keluarga yang miskin finansial, ia hidup dalam keluarga yang kaya akan cinta, yang nantinya akan menjadi fondasi hidupnya. Kemanapun ia pergi.
Kota Batu, kota yang terkenal akan nikmat apelnya menjadi tanah yang dihuninya. Kota yang memiliki hawa yang dingin dan dipenuhi kabut. Tak disangka, Iwan memiliki semangat yang membara dan terus meledak-ledak untuk memperbaiki hidupnya. Sayang sekali, ia masih tertahan dalam rumah kecil yang menjadikan gedek sebagai dinding dan tanah sebagai alas tidur.
Iwan menuliskan kisahnya menggunakan alur maju-mundur. Flashback. Setahu saya, jarang ada penulis yang menggunakannya. Ini sesuatu yang sulit. Penulis dituntut untuk runtut dalam bercerita dan tidak mbulet, agar pembaca dapat memahami apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan. Setiap bab di dalam buku ini akan membawa kita dari hiruk pikuk kota New York menuju dinginnya Kota Batu sewaktu ia kecil.
Ada satu tokoh yang sangat penting dibawah Iwan sendiri. Yakni, bocah kecil yang selalu mengikutinya setelah kejadian pemukulan dibawah jembatan. Ia, bocah kecil itu, mengaku tahu tentang dirinya. Saya kira ini adalah tokoh yang misterius. Kenapa dia menjdi begitu penting? Karena setiap pertanyaan yang diajukannya akan menghasilkan cerita tentang bagaimana bisa Iwan, anak seorang sopir angkot, dapat menginjakkan kakinya di negeri Paman Sam.
Setiap bab yang ada adalah jawaban atas pertanyaan yang kita dapatkan dari bab sebelumnya. Mereka terangkai dengan teliti. Namun agaknya ada yang harus Iwan jawab dari pertanyaan saya setelah saya membaca buku ini.
Pertama, saya sangat penasaran dengan si bocah kecil. Siapa dia sebenarnya? Apa dia sebatang kara? Lantaran saya tidak menemukan halaman yang menerangkan mengenai keluarga si bocah kecil. Dan anehnya si bocah kecil ini ikut Iwan ke indonesia dan mendaki gunung. Apa dia tidak apa-apa pergi ke negara orang sendirian hanya ditemani teman yang baru kenal?
Kedua, ada satu bab yang menjelaskan, menurut saya, kisah cinta Iwan dan seorang perempuan. Mereka bertemu, tak lama kemudian mereka berpisah. Sebelumnya saya menduga mereka akan bertemu lagi di ending, tapi tidak. Mereka tidak bertemu lagi. Ini menggantung. Dan baiknya, menurut saya, sebaiknya ini tidak di cantumkan dan jika ingin dimasukkan harus ada kelanjutan kisah mereka berdua.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memberi nilai 5/10 untuk buku ini. Teman yang ramah untuk mengabiskan waktu senggang.