Rabu, 05 November 2014

[Review] Sang Pemimpi


Judul: Sang Pemimpi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka


Semua orang pasti memiliki mimpi. Tak peduli laki-laki, perempuan, tua, muda. Entah mereka ingin menjadi dokter, pilot bahkan spiderman. Semuanya sah-sah saja. Jika mereka berjuang dengan segala apa yang mereka miliki, dan dibantu dari izin Tuhan, apa yang tidak mungkin?


Mimpi mempuntai peran yang sangat penting bagi tiap-tiap orang. Mimpi bertindak sebagai kompas, penunjuk arah sekaligus kemana kita akan berlabu. Bayangkan saja, jika sebuah kapal tak punya tujuan, kapal itu hanya akan terombang-ambing di lautan. Karena mereka tidak punya tujuan, tidak punya tempat untuk berlabu.




Dan kali ini Andrea Hirata mencoba menjelaskan bagaimana kekuatan dari sebuah mimpi melalui buku ini. Sang Pemimpi. Buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi, yang telah meraih berbagai macam pujian dari seluruh dunia. Serta telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa. Nampaknya Andrea ingin mencobanya lagi dengan buku ini.


Ikal, ia masih menjadi tokoh utama dalam buku ini. Masih miskin, hanya saja ia sekarang telah menginjak masa remaja. Masa dimana semua hal terasa memilukan.


Teman-teman laskar pelangi telah hilang. Mereka telah mengepakkan sayap-sayap kecilnya menuju kebebasan. Dunia mereka masing-masing. Dan sekarang ikal telah mendapatkan gantinya. Arai dan Jimbron. Dua orang yang tak jauh beda dengannya. Pemuda yang memiliki nasib yang kurang beruntung.


Nyatanya, pertabangan yang mengeruk pulau belitong tak mampu mengangkat derajat masyarakatnya. Mati dalam lumbung padi. Itu hal yang sangat memilukan di negeri ini. Hidup mereka dibatasi. Tidak boleh melewati batas yang ada. Tapi, sayang sekali itu tak dapat membendung kekuatan mimpi.


Mimpi Ikal dan Arai tak jauh beda. Terbang melampaui batas menuju tanah Prancis. Dan melanjutkan perguruan tinggi disana. Apa itu mustahil bagi dua orang pemuda belitong yang terlilit masalah keuangan? Tidak. Jika kau dapat memimpikannya, kau pasti bisa mewujudkannya. Sedangkan temannya satu lagi, Jimron, hanya ingin bertemu kuda dan menungganinya layaknya seorang joki dalam film koboy yang sering dilihatnya. Bagaimanapun, dia punya mimpi, dan sesederhana apapun mimpi, itu layak diperjuangkan.


Bagaimanapun, Ikal dan kedua temannya adalah sebagian pemuda yang beruntung. Masih bisa bersekolah. Walaupun, tiap hari mereka harus bekerka sebagai kuli di pasar ikan, yang selalu membuat bau badan mereka amis. Lantaran, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan ke SMA. Banyak dari mereka yang lebih memilih membantu mengangkat derajat keluarganya dari jeratan kemiskinan. Kebanyakan memilih menjadi nelayan atau kuli tambang. Mereka berbesar hati mengubur dalam-dalam mimpinya di pertambangan atau membuangnya jauh ke tengah laut.


Jika saya disuruh memilih antara Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi. Saya tidak dapat memilih. Lantaran keduannya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam laskar pelangi, andrea menyampaikan cerita dengan penuh ketelitian. Dan kekurangan yang dimiliki laskar pelangi, menurut saya, hanyalah terletak pada tokoh saja. Banyak nama yang harus saya ingat. Tak jarang saya harus berhenti sejenak, untuk mengingat salah satu nama, sebelum melanjutkan ke halaman selanjutnya.


Sebaliknya, Sang Pemimpi hanya memiliki 3 nama yang perlu diingat. Terlebih porsi dialog dan narasi yang saya rasa cukup padu. Hal ini membuat pembaca tidak mudah bosan, dan akan terus membalik lembar demi lembar hingga halaman terakhir.


Untuk kelebihan dan kekurangan saya memberikan nilai 6/10.