Rabu, 05 November 2014

[Review Buku] Sang Alkemis



 Judul: Sang Alkemis
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Jumlah: 216 hlm
Cetakan: Kelima Belas, Januari 2014
ISBN: 978-979-22-9840-6

"Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya."--hlm. 31.



Saya rasa, semua orang pernah mendapatlan mimpi dalam tidurnya. Walaupun, mimpi itu tak diharapkan sama- sekali. Tak terkecuali si anak gembala, Santiago. Dua kali ia mendapatkan mimpi yang sama. Awalnya, ia tak peduli akan mimpi itu, toh mau diulang seratus kalipun itu hanyalah sebuah mimpi. Tidak nyata. Jadi tak perlu dipikirkan. Setelah ia mendapatlan mimpi kedua, ia mulai gelisah. Ia mulai bertanya-tanya, apa maksud dari mimpi itu?





Karema rasa penasaran, ia pun pergi menuju seorang perempuan gipsi. Seorang ahli tafsir mimpi. Ia menjelaskan semuanya, termasuk tempat dimana harta karun itu berada. Dan perempuan gipsi itu mengatakan bahwa mimpi itu benar. Itu adalah sebuah pertanda. Setelah menafsirkan mimpi itu, perempuan gipsi itu hanya ingin imbalan berupa 1/10 jika si bocah kecil benar-benar mendapatkan harta karun itu.


Dalam perjalanannya; ia banyak bertemu orang yang aneh. Salah satunya adalah orang yang mengaku Raja Salem. Ia tak tahu apa orang itu benar-benar raja Salem, tapi Raja itu mengetahui mengenai mimpinya. Sama seperti si perempuan gipsi, mimpi itu adalah suatu pertanda untuknya, katanya. Itu adalah takdir si bocah kecil. Dan ia harus memenuhi takdir itu. Raja mengatakan jika ia ingin mengetahui cara mendapatkan harta karun itu, ia harus memberikan sepersepuluh domba yang ia miliki.


Kemudian ia bertemu orang lain, seorang alkemis. Ia bertemu dengannya ketika berada di padang pasir. Dan seperti orang-orang yang ditemuinnya, si alkemis memberikan petunjuk kepada bocah kecil untuk menemukan takdirnya, mencari harta karun.


Perjalanan yang awalnya hanya bertujuan untuk mencari harta karun, tidak di sangka juga menjadi penemuan jati diri dan cinta.

Saya rasa saya sudah terlewat batas. Saya takut nantinya tulisan ini akan menjadi spoiler. Maka, sekarang, biarkan saya mengomentari isi buku ini.


Agaknya, ungkapan 'do not judge a book by it is cover' tak selalu benar. Dalam urusan membeli buku ini, itu salah besar. Saya tertarik dengan kalimat di cover belakang buku ini. Bunyinya, "Setiap beberapa puluh tahun, muncul sebuah buku yang mengubah hidup para pembacanya selamanya." Saya telah benar-benar diracuni. Kalimat itu telah berhasil menghasut saya agar saya membelinya.


Sebuah buku petualangan. Dan sebagai mana buku petualangan, didalamnya akan ada banyak kejutan yang disuguhkan. Buku ini juga. Bedanya, kejutan dalam buku ini berupa renungan. Ada beberapa bagian dalam buku ini yang memiliki pesan yang sangat dalam. Bertaburan awal sampai akhir. Seakan Paulo Coelho tidak memberikan waktu barang sedetik hanya untuk menghelas nafas saja.


Kalimat-kalimat yang dirangkainnya sederhana dan mudah dipahami. Tak berbelit-belit. Tak bertele-tele. Semuanya serba terang. Dan saya sangat menyukai buku seperti ini. Dikemas dengan sederhana namun memiliki pesan yang luar biasa.


Namun ada satu hal yang amat sangat saya sayangkan. Bukan mengenai isi dari buku ini, namun dari segi cetakannya. Buku yang saya miliki bisa dianggap cacat, saya tidak tahu buku-buku orang lain. Lembar-lembar buku ini mudah lepas. Saya tidak tahu kenapa. Biasanya tidak seperti ini. Saya terpaksa menggunakan double tape untuk merekatkan kembali. Dan bisa. Namun rasanya sangat aneh dam tidak nyaman. Setiap membalik halaman berikutnya, ada perasaan was-was lembar akan lepas. Mohon pihak Gramedia Pustaka Utama sebegai penerbit memperbaikinya.

Rate: 8/10