Sabtu, 06 Juni 2015

[Review] Supernova #2 : Akar






Judul: Supernova: Akar
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah: 288 Halaman
ISBN:9786028811712
Rate: 3/5

 Novel ini adalah seri kedua dari lanjutan Supernova, Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh(KPBJ). Cerita dibuka dengan melanjutkan kisah Gio dan Diva. Barangkali hanya sekedar pengingat bahwa mereka masih memiliki kelanjutan cerita. Awalnya, saya kira, novel ini akan menceritakan Gio dan Diva saja, namun ternyata saya salah. Dewi ‘dee’ lestari, sang penulis, menciptakan tokoh baru, dengan nama, latar belakang dan juga kisah yang berbeda. 

Ia bernama Bodhi. Seorang anak punk dan ahli tattoo, yang ia dapatkan dari teman sesama backpaker selama di Bangkok, Thailand,. Ia meliki hobi berkeliling Negara, yang nantinya membuat dirinya menjadi seorang backpacker. Ia tak tahu siapa orang tuanya, bahkan tak tahu apa nama yang diberikan oleh orang tuanya. Ia ditemukan seorang biksu, Guru Liong, dihalaman depan wihara dan dia memberikan nama Bodhi untuknya. Ia besar bersama Guru Liong, serta ajaran Buddha menyertainya. Hampir sama sekali ia tak memiliki identitas. Umurnya 23 tahun, itupun kira-kira.

Bodhi disini, oya, dalam buku ini Dee menggunakan sudut pandang orang pertama dan meminjam suara Bodhi, barangkali itu yang membuat perbedaan amat mencolok dengan buku yang pertama. Jika pada KPBJ terkesan menggunakan bahasa yang nyastra, dalam buku ini penyampaian lebih menonjol kepada sudut pandang seorang anak muda yang nyentrik. Dan saya lebih suka buku ini ketimbang yang pertama.


Seperti novel yang pertama, kisah dalam novel ini meloncat-loncat. Dalam artian menggunakan alur Maju dan Mundur. Kadang-kadang flashback. Dan saya suka dengan alur semacam itu. Sebagai seorang backpaker, ia telah berkeliling ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Seperti Laos, Thailand, Kamboja dan Burma atau Myanmar. Dan kita juga akan diajak mengenali ketiga Negara ituka berkenalan denganan sudut pandang seorang Bodhi.

Jika kalian memiliki hobi yang sama seperti Bodhi, jalan-jalan, mungkin buku ini bisa menjadi referensi kalian. Kita akan diajak mengenal kebudayaan dan keunikan daerah-dareah yang telah dikunjunginya.

Keahlian mentatto itu ia dapatkan ketitika berkenalan dengan backpacker lainnya, Kell, ketika ia sedang berada di Bangkok, Tahiland. 

Lalu beberapa hal yang sangat mencederai novel ini adalah.

Adegan Bodhi sedang mentatto Star. Dan sedikit menyinggung kepada adegan yang ‘panas’. Saya kita itu tak perlu, yang kalaupun adegan itu taka da, cerita akan tetap berjalan. Keculai, jika dengan adanya adegan itu, suatu saat nanti akan menimbulkan konlik yang membuat keutuhan cerita semakin menarik.

Kedua, penggunaan bahasa asing. Dalam buku  ini, kita akan menjumpai beberapa dialog yang menggunakan bahasa asing. Jujur, bahasa yang dapat saya gunakan dengan fasih selain bahasa Indonesia, adalah bahasa jawa. Bahasa-bahasa asing yang digunakan adalah Bahasa Inggris, Bahasa Thailand, Bahasa Laos dan Bahasa Burma. Ya, memang beberapa ada penjelasan. Namun, yang saya temukan, ada beberapa lagi tidak. Saya ingin mengatakan bahwa tak semua orang bisa bahasa asing, dan alangkah baiknya si penulis menunggunakan bahasa Indonesia saja, dengan catatan menjelaskan bahwa ia sedang berbicara dengan bahasa lain.

Misal:

“Apa kabarmu?” Katanya menggunakan bahasa Thai yang terdengar lucu ditelingaku.

Tapi, semua kembali keselera masing-masing. Namun, buku ini pantas untuk dijadikan teman untuk membunuh waktu, yang akan membuat waktu seakan berjalan lebih cepat.