Jumat, 05 Juni 2015

[Review] Supernova: Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh



Judul: Kesatria, Puteri dan Bintang Jatuh (KPBJ)
Penulis: Dewi 'Dee' Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah: 322 Halaman
ISBN: 9786028811729
Rate: 2/5


Dugaan awal, setelah membaca keping pertama, adalah buku ini akan mengisahkan sebuah cerita bertemakan persahabatan. Ya, di awal kita akan diperkenalkan dengan dua tokoh yang berperan penting dalam jalanya cerita. Dimas dan Reuben. Semakin banyak halaman yang saya baca, semakin jauh dugaan saya melenceng.

Kemudian, para pembaca akan dibuat bertanya-tanya dengan hadirnya sosok Supernova. Low profile dan misterius. Beberapa kali ia turut ambil bagian di sela-sela bab. Yang menurut saya, agak menggangu konsentrasi si pembaca. Karena, saya rasa, orang akan membutuhkan waktu untuk berpindah sudut, pikiran, tempat dan semacamnya.  Belum lagi, cerita tersebut ada dua bagian menurut saya. Tentang Dimas dan Reuben dan juga cerita yang mereka berdua tulis mengenai dongen Ksatria, Putri an Bintang Jatuh. Oh satu lagi, rasanya pergantian sudut pandang juga membuat para pembaca bingung. 


Ketika sedang khusuk menyelami sudut pandang Dimas dan Reuben, tiba-tiba berpindah menjadi Arwin, Ferre, Diva dan Supernova. Itu membingungkan, bagi saya sebagai orang awam. Apalagi, ada beberapa tokoh yang terkesan dipaksa dan terlihat sangat tak masuk logika. Kepintaran seorang Diva, si pelacur kelas atas, sangat diatas rata-rata. Bahkan, ia tak pantas menjadi seorang pelacur dengan pemikiran atau pandangan-pandangannya.

Dengan penyampaian menggunakan sudut pandang orang ketiga, si penulis, Dee Lestari, terlihat sangat piawai menggunakanya. Susunan kalimat, yang menurut saya, mengalir, membuat pembaca tidak mudah bosan dengan cerita ini meskipun, menurut saya sendiri, pada bab-bab tengah terjadi penurunan konflik. Entah kenapa saya merasakan hal itu.

Novel ini menawarkan sebuah kisah yang mungkin saja menurut orang Indonesia tabu. Kenapa, bacalah sendiri, nanti kalian akan tahu sendiri kenapa saya mengatakan itu. Dan saya harap, anda nanti tak menyesal jika membaca buku ini. Namun, justru dengan keunikannya, ia mempunyai warna yang berbeda, yang disukai oleh orang yang ingin mencari sesuatu yang beda. 

Tahun 2000-an saya masih kecil, jadi tak tahu apa yang terjadi ketika novel ini pertama kali terbit. Namun, setelah membaca review-review lainnya, mengatakan bahwa tahun 2000-an sedang meledaknya isu tentang seksualitas. Dan, and tahu, tokoh Dimas dan Reuben dalam tokoh ini ada pasangan gay. Itu mengejutuan bagi saya. Sebetulnya, saya juga meras enggan melanjutkan membaca setelah mengetahui itu, apalagi pada tahap awal kita di sambut oleh berbagai teori fisika kuantum, yang bagi saya hanya membingungkan otak saja.

Namun semua kembali ke selera, di website khusus perkumpulan pembaca buku, Goodreads, banyak yang memberikan pujian pada buku ini dan tak segan memberikan bintang 5 dari 5. Beberapa lainnya ada yang memberikan hanya satu bintang, dan bahkan ada yang mengatakan bahwa tak akan membaca seria dari buku ini lagi.(Rise, Jun 01 2015.)