Sabtu, 13 Februari 2016

[Review] The Return of Sherlock Holmes





Judul: The Return of Sherlock Holmes
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Genre: Mystery, Thriller, Crime
Tebal: 532 halaman
Penerbit: Shira Media, cetakan kedua 2014
ISBN: 978-602-1142-00-4
Rating: 8/10

Buku ini adalah seri keenam kisah petualangan Sherlock Holmes dan sahabatnya, Dr. John Watson, yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Dan ini menjadi buku ketiga yang ditulis oleh Doyle yang sudah say abaca, sebelumnya adalah The Hound of The Baskervilles, masih kisah mengenai Sherlock dan yang satunya ada The Lost World, sampeyan bisa membaca kedua review buku tersebut di blog ini.

Dalam buku ini ada 13 kisah petualangan sang dedektif dari London ini. Jadi saya tak akkan membahasnya semuanya, melainkan garis besarnya saja. Berikut adalah judul-judul cerita yang ada dalam buku ini:

1.      The Empty House
Menceritakan kebangkitan Sherlock  Holmes dari ‘kematiannya; di air terjun reichenbach.
2.      The Norwood Builder.
3.      The Dancing Men
4.      The Solitary Cyclist
5.      The Priory School
6.      Black Peter
7.      Charles Augustus Milverton
8.      The Six Napoleons
9.      The Three Students
10.  The Golden Pince-Nez
11.  The Missing Three-Quarter
12.  The Abbey Grange
13.  The Second Stain
Bagi yang belum pernah membaca kisah Sherlock, biarkan saya menceritakan tentang detektif nyentrik ini. Dia adalah detektif swasta, namun seringkali polisi berkonsultasi dengannya. Kelebihan dari profesinya tersebut adalah ia dapat memilih sendiri kasus mana yang nantinya akan ia kerjakan. Semakin aneh kasusnya, semakin ia tertarik. Jadi, mau menyangkut sebuah kematian orang penting, hilangnya anak perdana menteri atau apapun itu, misalnya, jika ia merasa bahwa kasus itu nantinya akan membosankan, ia akan menolaknya. Lucunya lagi, ia tak begitu mempedulikan bayaran yang nantinya ia dapatkan ketika memecahkan kasus, selama kasus itu menarik baginya.(hal. 166)

Kelebihan yang menjadikan dirinya popular adalah kemampuan deduksi yang dimiliknya. Deduksi adalah ilmu mengenai bagaimana cara menyimpulkan sesuatu dari beberapa fakta yang ada di depan mata, begitulah setidaknya. Dan ia sering menunjukkan kebolehannya itu dalam satu cerita.

Selanjutnya Dr. John Watson, mantan prajurit perang dan seorang yang suka menulis. Sampeyan tahu, hampir semua kisah petualangan Sherlock holmes ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan. Jadi menggunakan ‘suara’ Dr. Watson. Semacam catatan biografi yang ditulis oleh sang dokter. Bukan hanya di buku ini saja Sir Arthur Conan Doyle menggunakan Sherlock Holmes, tapi hampir sebuah cerita yang ditulisnya, termasuk The Lost World.

Dalam buku ini ada beberapa kasus yang saya anggap menarik. Karena si penulis tidak selalu menggunakan ‘kematian’ sebagai sebab, melainkan sebagai akibat. Yang mana, seperti yang kita tahu, kebanyakan cerita detektif bermula ketika seseoraang telah di bunuh. Bahkan ada cerita yang mana tidak ada kematian di dalamnya. Yakni dalam kisah The Second Stain dan The Three Students.

Jadi genre buku ini bukan hanya Mystery tapi juga thriller, menurut saya. Perbedaannya adalah sebuah kisa dibilang misteri jika terjadi suatu pembunuhan kemudian cerita bergerak, sedangka thriller adalah bagaimana caranya kita menjaga sesuatu yang buruk, kematian mungkin, terjadi. Tapi, itu hanya pandangan.

Cerita dituturkan dengan gaya penulisan yang tak berniat melebih-lebihkan apa yang terjadi. Beberapa kata saja, langsung ada tanda titik. Bisa dibilang ini cirri khas Sir Arthur Conan Doyle. Saya pernah membaca sekilas salah satu cerita Sherlock Holmes ini dalam bahasa inggris dan itu sesuata kesalahan bagi saya. Di samping inggris saya masih rendah, cerita-cerita Sherlock pertama kali memang muncul sekitar abad 18. Jadi agak susah memahami versi aslinya. Namun, jika sudah terjemahan, itu tidak menjadi masalah.

Mungkin sampeyan pernah menonton serial Sherlock di bbc one? Di season ketiga episode ketiga? Episode terbut terinspirasi dari salah satu cerita yang ada dalam buku ini, judulnya Charles Augustus Milverton namun episode itu diberi judul judul His Las Vow dan tokoh Charles Augustus Milverton diganti Charles Augustus Magnussen dan beberapa bagian diubah. Jika sampeyan sherlockian, nama penggemar detektif dari London ini, pastilah sampeyan sudah menyaksikannya.


“I assure you, my good Lestrade, that I have an excellent reason for everything that I do.”