Minggu, 13 Mei 2018

[Review Buku] Lelaki Harimau


Judul: Lelaki Harimau

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Ketujuh, Oktober 2016

Tebal: 190 halaman

ISBN: 978-602-03-2465-4


Blurb

Pada lanskap yang surreal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedy pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan birahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.”



Ulasan

Terus terang, dari sekian buku karangan penulis Indonesia, saya belum pernah membaca cerita seliar milik Eka Kurniawan ini. Entah wawasan saya tentang kesusastraan Indonesia yang lemah atau memang demikian kenyataannya. Dibalut rasa salut dan bangga bahwa karya ini adalah hasil tarian jemari orang kelahiran Tasikmalaya, 1975. 


Selain sampul yang menarik mata, alasan lainnya kenapa saya memutuskan untuk membawa buku ini ke kasir adalah blurb yang ada di belakang buku ini—yang bisa kalian baca diatas. Timbul banyak pertanyaan dari judul maupun blurb buku ini, apa maksud sebenarnya. Sempat saya berpikir bahwa ini adalah buku fantasi seperti yang kebanyakan saya jumpai, yang mana cenderung tidak saya sukai, namun ada ketertarikan ketika secara tersurat disampaikan bahwa ini adalah kasus pembunuhan dan pelaku menyangkal dengan mengatakan ada harimau di dalam tubuhnya. Saya senang membaca cerita misteri pembunuhan dan alasan lainnya adalah di sampul depan tertulis ‘WINNER FT/OPPENHEIMERFUNDS EMERGING VOICES AWARDS 2016’. Meskipun saya tak tahu betul kontes apa dan sebesar apa arti kemenangan tersebut, tapi tentulah hal itu menjamin bahwa buku ini adalah yang terbaik dan saya harus tahu kenapa demikian. Lebih dari itu, banyak komentar positif di sampul belakang baik dari dalam maupun luar negeri.


Tidak seperti buku-buku lainnya yang menguak pelaku pembunuhan di ujung cerita, buku ini menaruhnya tepat di kalimat pertama bahkan mengatakannya di sampul belakang buku. Jadi, kita akan diajak mencari tahu motif atau dasar seseorang hingga sampai hati mengakhiri hidup orang lain, terlebih lagi, mengaku bahwa ada harimau di dalam tubuhnya.


Dijelaskan asal muasal Margio, si pelaku, beserta keluarga dan latar belakangnya. Hidupnya di masa lampau dan kebiasaannya di masa sekarang. Lalu berlanjut pada tempat dan tokoh-tokoh lainnya yang seolah menjadi teka-teki atau puzzle dari sebuah cerita yang itu. Semua saling terkait dan mempengaruhi. Setiap tokoh dikenalkan dengan baik, bahkan yang hanya tampil sekelebat saja, agar menutup segala tanya di kepala kita.


Karena penjelasan yang rinci itulah alur buku ini kadang maju, kadang mundur sedikit, maju lagi, mundur jauh ke belakang, begitu terus hingga halaman terakhir. Pergantian latar dan setting yang berulang-ulang dapat berpotensi membingungkan pembaca, namun saya pribadi tak terlalu bermasalah dengan itu.


Bahasa yang digunakan cukup lugas dan tanpa basa-basi. Penggunaan diksi yang pandai. Ada juga sebuah keunikan, entah orang menggolongkannya kelebihan atau kekurangan, karena Eka kadang menggunakan kata yang asing dalam kalimat-kalimatnya. Beberapa kali saya membuka KBBI untuk mengetahui makna kata yang ia maksud agar tak hilang imajinasi. Saya termasuk orang yang menganggap keputusan itu, menggunakan kosa kata asing, adalah tindakan yang bagus untuk mengenalkan bahwa Bahasa Indonesia punya banyak sekali padanan dan menambah perbendaharaan kata saya.


Eka lebih senang bermain dalam narasi dan member dialog seperlunya saja. Hal ini juga berpotensi membuat pembaca cepat bosan karena harus berkonsentrasi pada setiap kata dalam narasi. Saya sendiri tak begitu mempermasalahkan hal ini, karena penulisan narasi yang kuat menutupi penggunaan dialog yang sia-sia.


Ini novel yang edan bagusnya. Dari novel ini saya penasaran dengan karang-karangan Eka lainnya. Semoga bisa menjelajahi keliaran imajinasi Eka Kurniawan lagi.