Sabtu, 17 Mei 2014

[Review] Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah!



Judul: Hidup Ini Keras, Maka Gebuklah!
Penulis: Prie GS
Penerbit: Visimedia, 2012
Tebal: 574 hal


 Buku yang bagus.

Ditulis dengan sederhana, konflik-konfliknya pun sederhana yang biasa terjadi disekeliling kita, akan tetapi cara penyelesaian masalah yang sangat mencengangkan. Ditambah lagi dengan beberapa humor yang membuat pembaca tersenyum.


Sebuah kisah yang berlatar di kota Semarang. Ini menurut saya buku yang berbeda dengan kebanyakan. Salah satunya pemilihan dialog yang menggunakan "Aku-Kamu" bukan "Lo-Gue" yang awam digunakan oleh remaja jaman sekarang. Atau mungkin juga pengaruh awal terbit buku tersebut sekitar tahun 80an


Sebenarnya, buku ini adalah gabungan dari beberapa buku. Yaitu Ipung 1, Ipung 2, dan Elegi Surtini dan Ayunda. Dan di rangkum menjadj sebuah buku yang berjudul 'Hidup ini keras, maka gebuklah!' berkat dorongan salah satu penggemar seri novel Ipung.

Yang saya sayangkan dari novel ini adalah banyaknya kata yang salah ketik dan ada juga beberapa paragraf yang tertulis ulang. Itu membuat saya sedikit terganggu dengan itu. Tapi, kata Om Prie, dia menuliskannya dengan santai karena penulis, editor, dan yang memuat adalah beloau sendiri.

Dari 3 bagian novel yang ada dinovel ini adalah yang paling saya suka adalah Ipung 1. Dalam novel ini, menurut saya, porsi narasi dan dialog cukup padu. Dan tidak membuat pembaca cepat bosan. Sedangkan pada waktu bagian Elegi Surtini & Ayunda, menurut saya terlalu banyak narasi, itu membuat cerita terlihat begitu padat.

Setelah membaca novel ini 2 kali, iya 2kali, saya masih bingung dengan kisah asmara Ipung dan Paulin. Paulin pergi, tapi bukankah dia tidak mengatakan bahwa hubungannya telah selesai. Dan tiba-toba datang sosok Ayunda ke kehidupan Ipung. Dan itu, maaf, menurut saya Ipung sedang berselingkuh. Benarkah demikian? Saya tak tahu.

Dalam novel ini kita diajarkan seni bernegosiasi dengan kata-kata. Karena dalam novel ini sang tokoh utama, Ipung, digambarkan sebagai anak kerempeng dan miskin yang setiap pagi pergi ke sekolah menggunakan sepeda ontel.

bahwa kerempeng bukan jaminan untuk mengalah pada hidup!