Sabtu, 31 Mei 2014

[Review] Negeri 5 Menara

cover film
Penulis: Ahmad Fuadi
Editor: Mirna Yulistianti
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2012(cover film)
Tebal:432 hal
ISBN: 978-979-22-8004-3


 Merantau meninggalkan orang-orang atau apapun yang kita cintai itu bukanlah perkara yang mudah. Tapi, mau tak mau Alif harus merantau. Karena itu saran dari Amaknya yang ingin dia menjadi ahli agama seperti Buya Hamka. Padahal, dia sendiri ingin menjadi seperti Habibie dan membuat pesawat terbang.

Walau diliputi perasaan bimbang, ia tetap pergi merantau. Tapi dia ingin bersekolah yang jauh dari rumahnya, kampung Bayur dekat Danau Maninjau. Akhirnya ia pun memutuskan untuk merantau ke Tanah Jawa. Lebih tepatnya ke sebuah pondok di suatu desa yang udik di pedalaman kota Ponorogo, Pondok Madani.

Dapat dikatakan itu adalah keputusan setengah hati Alif. Tapi ia yakin, bahwa itu keputusan yang terbaik.

"Ke Cina saja disuruh, apalagi hanya sekedar ke Jawa Timur." katanya waktu meninggalkan kampungnya untuk pergi merantau.


Di PM--sebutan untuk Pondok Madani, atau sekarang telah menjadi Pondok Modern Gontor, ia menemukan banyak hal baru dan tentunya teman-teman baru. Dan ia melakukan kesalahan besar bahwa menganggap kegiatan yang ada di pondok hanyalah belajar agama terus-terusan. Banyak kegiatan non agama di sana, seperti olahraga dll.

Hari pertama Alif belajar di PM, ia sudah dikejutkan dengan sebuah 'mantra' sakti yang di sampaikan ustadnya. 'Mantra' itu adalah Man Jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Tapi bukan hanya Alif yang tersengat oleh 'mantra' itu, mungkin semua murid baru yang ada di PM. Karena, di setiap awal tahun pembelajaran untuk siswa baru akan dikumandangkan koor 'mantra' itu selama satu jam non-stop.

Selama belajar di PM, Alif dididik agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan disiplin dalam segala hal.

Alif bertemu dengan kawan-kawan barunya yang berasal dari seluruh penjuru negeri. Tapi dari sekian banyak teman barunya, ada beberapa yang dia jadikan sebagai sahabat selama belajar di PM.

Mereka adalah Raja dari Medan,  Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa. Mereka berteman erat setelah mendapat hukuman jewer berantai dari Tyson.
Tempat yang sangat mereka sukai adalah di bawah menara yang berada di dekat masjid. Setiap mempuntai waktu luang, mereka berenam selalu menghabiskannya di tempat itu. Oleh karena kebiasaan mereka berkumpul di bawah menara, mereka mendapat julukan Sahibul Menara. Para pemilik menara.

Suatu hari di bawah menara, mereka bercerita tentang mimpi mereka masing-masing. Awan-awan yang berada diatas mereka, sesuai impian masing-masing, berubah membentuk benua-benua yang ingin mereka datangi dan takhlukan. Walaupun begitu, mereka belum tahu bagaimana mereka mewujudkannya. Tapi mereka sangat percaya pada mantra Man Jadda Wajada. Dan Tuhan sungguh Maha Mendengar.
------------------------------------
Siapakah Tyson? Atau siapakah Sarah? Akankah mereka berhasil mewujudkan impiannya masing-masing? Mana saja benua yang ingin mereka takhlukan?
           Man jadda wajada!!