Sabtu, 10 Januari 2015

Ally, All These Lives

Terus terang saja, saya menyukai novel ini, walaupun hsaya hanya membaca dua bab saja. Tapi, saya merasa bahwa sang penulis, Arleen, mempunyai sesuatu yang tak dimiliki oleh penulis lain, khususnya kalangan penulis Indonesia. Dan di dalam novel inilah ia tunjukkan kelebihannya.

Sungguh cerita yang berbeda, saya dapat melihat dari konflik serta alur yang dituliskannya. Semua agaknya membuat si pembaca akan merasa nyaman sekaligus penasaran. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dirangkai sedemikian rupa sehingga mengahasilkan sebuah cerita yang enak untuk dibaca kala waktu senggang. Saya juga melihat gaya penulisan yang digunakan oleh Arleen adalah seperti novel terjemahan. Dan disinilah salah satu alasan kenapa saya menyukai novel ini. Deksripsi yang dituliskan pun, saya kira, cukup pas. Tak belebihan dan juga sangat membantu pembaca untuk membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Porsi antara dialog dan narasi pun padu.

Jika tujuan penulis adalah membuat pembaca penasaran dan segera membalik halaman berikutnya, maka saya rasa dia sukses. Banyak pertanyaan yang tertinggal di benak saya setelah membaca cerita ini yang mengakibatkan saya ingin segera membaca novel ini secara keseluruhan. Salah satunya ialah hal-hal aneh yang terjadi pada tokoh utama, Ally. Dia menjadi daya tarik tersendiri dalam novel ini. Dan saya ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ally.




Untuk genre, saya masih belum berani memastikan termasuk apa genre novel ini. Tapi jika saya boleh menebak, mungkin novel ini bergenre thriller atau misteri. Di lain sisi, pada website resmi Gramedia Pustaka Utama, sebagai penerbit buku ini, tertulis bahwa novel ini bergenre romance. Membingungkan, tapi justru hal yang seperti ini yang biasanya akan menjadi magnet agar banyak orang tertarik untuk membeli dan membacanya.

Cover Buku Ally, All These Lives.


Sampul buku ini juga dapat menerangkan banyak hal. Jika kita jeli, kita dapat melihat tiga sisi yang berbeda yang berada di depan gadis tersebut. Dan saya tidak berani menyimpulkan apa maksud sebenarnya yang ingin di dampaikan, karena saya belum membaca novel ini secara keseluruhan. Anggap saja kita sedang membicarakan seorang bidadari, kita belum pernah melihatnya namun menurut kabar burung, ia adalah seorang wanita yang cantik nan anggung dengan sayap dan rambut hitam panjang yang terurai ke tanah. Seperti itulah bayangan saya mengenai novel ini.

Saya baru membaca dua bab saja, tapi rasa penasaran dan berbagai pertanyaan masuk ke kepala saya. Dan, yang saya harapkan, suatu saat nanti saya ingin membaca novel ini dari awal sampai akhir. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada sang penulis, Arleen, karena telah memberikan saya kesempatan untuk menjadi first chapters commentator. Sekali lagi, terima kasih.